Maria, Guru Berhati Mulia di Flores yang Dibayar Rp85.000,- Sebulan



Di pelosok Desa Watudiran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, hidup seorang guru honorer berhati mulia. Ia adalah Maria Yuliwati. Perempuan berambut ikal ini sudah mengajar di SMP Negeri 3 Waigete sejak tahun 2017 atau sejak sekolah tersebut didirikan. 

Jangan membayangkan hidup Maria sebagai guru honorer terbilang mapan, padahal jauh dari kata layak. Dalam sebulan Maria hanya digaji sebesar Rp85.000,-. Namun, Maria tak sendiri, ia bersama tujuh guru honorer lainnya mendapatkan upah yang sama setiap bulan. Kondisi ini berlangsung selama satu tahun. 

Di tahun kedua, yakni tahun 2019, Maria dan kawan-kawan mendapat kenaikan gaji dan menerima sebesar Rp125.000,- per bulan. Meski begitu, tentu gaji yang diberikan jauh di bawah standar guru honorer di daerah lainnya. Hal ini terjadi karena biaya operasional sekolah sepenuhnya mengandalkan uang dari iuran orang tua siswa. 

Mengingat sekolah ini dibangun di daerah terpencil dengan kondisi seadanya, tentu Maria dan kawan-kawan tak bisa berharap banyak. 

Tetap Semangat Mengajar Meski Gaji Tak Layak

Meski harus melalui kondisi keuangan yang sulit, Maria tetap merasa senang dan semangat mengajar. Maria pendidikan anak-anak lebih penting dibandingkan upah kerja yang ia terima. Walaupun, tetap saja, Maria dan 7 orang guru honorer lainnya tak bisa bertahan hidup hanya dengan uang Rp85.000,- hingga Rp125.000,- sebulan. 

Maria tak memungkiri, ia sempat merasa kecewa dengan sistem pendidikan Indonesia yang belum merata dan gaji guru honorer di pelosok daerah yang masih rendah. Terkadang, layaknya manusia biasa, Maria hanya bisa mengeluh dan meratapi nasibnya. 

Kecintaannya pada dunia mengajar membuat Maria tak bisa meninggalkan anak didik dan sahabat-sahabatnya yang sama-sama berjuang demi memajukan pendidikan di desanya. Maria dan kawan-kawan berkomitmen akan melanjutkan perjuangan mengajar meski di tengah keterbatasan. 
Bagi mereka, mengajar adalah hal yang paling mulia, dan kemuliaan itu yang menjadikan mereka bersemangat dalam mengajarkan pendidikan untuk anak didiknya meski harus hidup penuh kekurangan. Tentu perjuangan Maria dan kawan-kawan sangat menginspirasi banyak orang, terutama para pemuda yang bercita-cita sebagai guru. 

Maria mengajarkan, tak selamanya kemuliaan bisa diukur dengan materi. Sehingga tak pelak jika Maria berhak diapresiasi dan mendapat Asuransi Syariah Indonesia.

Menurut pengakuan Ketua Komite Sekolah SMPN 3 Waigete, Barnabas Kornelis, orang tua siswa dituntut untuk membayar Rp400.000 per tahun dan biaya tersebut digunakan untuk menggaji para guru honorer. Jika iuran dinaikkan, maka akan memberatkan para orang tua siswa yang mayoritas hanya bekerja sebagai petani. 

Maria mengatakan, tak mengapa baginya dan kawan-kawan hidup berkekurangan asal pendidikan di desanya tak tertinggal. Bahkan, Maria menyebut ia harus berhutang ke orang lain untuk menutup kebutuhan keluarganya setiap bulan. Sembari mengajar, Maria juga menyempatkan diri untuk berladang padi atau jagung demi menambah uang makan dan kebutuhan anak juga suaminya. 

Pengorbanan Maria ini adalah salah satu alasan mengapa ia berhak mendapatkan kebaikan dari Produk Asuransi Syariah. Produk asuransi ini adalah produk asuransi jiwa yang memberikan perlindungan maksimal sekaligus investasi bagi keluarga sepanjang hidup meski Anda sudah meninggal dunia.

Hal ini tentu sangat  berguna bagi Maria sehingga ahli waris mampu melanjutkan perjuangan Maria untuk hidup lebih layak meski Maria telah tiada. Selain itu, ahli waris juga akan mendapatkan sejumlah uang sekaligus  investasi jangka panjang.

Selain asuransi syariah, Allianz juga memiliki kampanye bertajuk #AwaliDenganKebaikan yang memungkinkan Anda membantu peserta asuransi lainnya yang sedang kesulitan dengan cara menjadi peserta asuransi syariah. Nantinya, iuran yang diserahkan kepada Allianz akan dikumpulkan dan diberikan kepada peserta lain yang membutuhkan. 

Caranya mudah saja, Anda hanya perlu menjadi bagian dari peserta AlliSya Protection Plus. Dengan demikian Anda sudah bisa menolong peserta lain yang kesusahan sekaligus mendapat perlindungan maksimal.